Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Februari 2014

Tiada kesalahan jenayah kenapa lapor polis Ketua Ekonomis Bank Islam Azrul Azwar

Harakahdaily, 22 Jan 2013
KUALA LUMPUR: Ketua Ekonomis Bank Islam Azrul Azwar Ahmad Tajudin yakin, tidak ada sebarang kes jenayah berlaku antara beliau dengan Bank Islam.

Oleh itu, beliau terkejut apabila mengetahui ada laporan polis dibuat terhadap beliau oleh kakitangan Bank Islam.

"Saya ingin menjelaskan, dakwaan yang terkandung dalam laporan polis yang dibuat oleh majikan saya tidak mengandungi sebarang kesalahan jenayah.

"Paling kuatpun hanya isu sivil yang kini tertakluk kepada Siasatan Dalaman (DI) antara majikan dengan saya," kata Azrul dalam kenyataannya.

Beliau yang kesal dengan laporan polis itu menyifatkan kes ini tidak sepatutnya menjadi kes polis.

"Saya tidak nampak mengapa kes ini menjadi kes polis.

"Isu ini yang dibesarkan kepada yang tidak sewajarnya adalah satu taktik untuk mengugut dan gangguan ke atas saya," kata Arzul.

Bank Islam membuat laporan polis terhadap ketua ekonomisnya Azrul Azwar Ahmad Tajudin atas dakwaan memiliki dan mengedar dokumen sulit syarikat tanpa kebenaran.

Laporan oleh ketua jabatan sumber manusia Bank Islam, Jamilah Abdul Sallam itu mendakwa dokumen itu melibatkan satu cadangan korporat melibatkan bank tersebut.

"Encik Azrul yang tidak mempunyai akses dan autoriti terhadap dokumen tersebut telah menyerahkan dokumen tersebut kepada pihak ketiga yang tidak berkaitan tanpa mendapatkan kelulusan atau kebenaran," dakwa Jamilah.

Dalam laporan bertarikh 18 Januari itu, beliau juga mendakwa Azrul menyalin dokumen "sulit dan sensitif" terbabit dan menghantarnya melalui emel kepada pihak terbabit.

Media Singapura sebelum ini membuat laporan, Azrul dalam analisanya meramalkan Pakatan Rakyat akan menang tipis dalam pilihan raya umum nanti.

Ekoran itu, Bank Islam telah menggantung Azrul dari tugasnya dan Siasatan Dalaman dijalankan ke atas beliau.

Jumat, 29 November 2013

Film Anti Islam Rusia Ancam Blokir YouTube

Menteri Komunikasi Rusia, Nikolai Nikiforov

Pemerintah Rusia mengancam akan memblokir YouTube secara keseluruhan, jika situs video sharing itu tidak menghapus film kontroversial anti-Islam yang memicu protes dan kekerasan di dunia muslim, "Innocence of Muslims". Khawatir akan memicu keresahan di kalangan muslim Rusia, Menteri Komunikasi, Nikolai Nikiforov menulis dalam akun Twitternya Selasa kemarin, bahwa akses ke YouTube akan diblok, jika pemiliknya, Google gagal memenuhi perintah pengadilan yang melarang tayangan film yang menghina muslim, dan terutama Nabi Muhammad. 



Jaksa bahkan telah meminta Pengadilan Moskow untuk menetapkan "Innocence of Muslims" sebagai "ekstrimis" dan "menghina kepercayaan". Putusan pengadilan terkait itu segera dikeluarkan.Badan Federal untuk Pengawasan di Bidang Telekomunikasi, Teknologi Informasi dan Komunikasi Massa Rusia (ROSKOMNADZOR) telah mengambil langkah pencegahan penyebarluasan film tersebut. Hasilnya, ROSKOMNADZOR memerintahkan operator telekomunikasi memblokir akses pengguna internet ke situs penayang film tersebut.

Selain itu, pemerintah Rusia juga memerintahkan redaksi media massa dan cetak di negara tersebut untuk tidak memasang tautan ke alamat situs-situs penayang film tersebut. Selain itu, media massa juga diwajibkan untuk tidak menyebarluaskan film itu kepada para pembacanya. Russia memiliki 20 juta warga Muslim.Akibat penayangan film ini, banyak orang tidak berdosa yang tewas. Film ini tidak lebih dari pornografi satire yang bertujuan untuk memprovokasi dunia Islam. Karena itu perlu dilakukan pelarangan publikasi," kata wakil ketua Dewan Federasi Rusia, Ilyas Umakhanov, dikutip dariRussia Times.

Sebelumnya, Google bersikap akan menghapus konten yang melanggar hukum sebuah negara, namun raksasa internet itu mengatakan, pihaknya akan menjaga keseimbangan antara sensor dan melindungi kebebasan berpendapat. Ini menjadi sebuah tantangan, apa yang oke di sebuah negara bisa ofensif di tempat lain," demikian pernyataan Google. "Di saat sebuah video melanggar hukum lokal, kami akan menghapusnya."Video cuplikan itu telah dihapus di sejumlah negara di antaranya, India, Indonesia, Libya, dan Mesir. Namun, baik YouTube maupun Google menolak untuk menanggapi permintaan Menteri Nikiforov. Bagaimana Dengan Indonesia Dengan Penduduk Muslim Terbesar Di Dunia ?
http://teknologi.news.viva.co.id & http://terselungkup.blogspot.com/